Pantaskah Formula E untuk Rio Haryanto?

fb-rio-haryanto

Berita tentang Rio Haryanto test Formula E (electric) di Valencia beberapa waktu yang lalu cukup menggembirakan bagi para penggemarnya. Pasalnya mereka merindukan pembalap bertalenta ini kembali berlaga di ajang balap international dan membawa nama bangsa. Apa sebenarnya perbedaan Formula E dan Formula 1 – Pantaskah seorang Rio Haryanto menekuni balap mobil listrik atau ada alternatif balapan mobil single seater yang lain?
Pertama melihat balapan Formula E di televisi memang terasa kurang menggigit, suaranya-pun seperti mobil remote control baterai. Kecepatan jauh berbeda; top speed Formula 1 bisa mencapai lebih dari 350 km/jam sedangkan Formula E sekitar 220 km/jam. Akselerasi 1-100 km/jam Formula 1 hanya 1,7 detik dan Formula E 3 detik. Namun persaingan antara tim dan pembalap terlihat sangat seru. Gap waktu antar pembalap tak terlalu jauh seperti Formula 1 yang terkadang kita melihat pembalap meninggalkan terlalu jauh lawannya sehingga seperti balapan sendiri. Aksi overtaking dan saling senggol juga sering terjadi di Formula E. Nama-nama terkenal seperti Dallara, McLaren, Williams, Renault dan Michelin sering mondar-mandir di event ini seperti bersemangat untuk menciptakan mobilnya. Pemilik tim juga cukup keren termasuk aktor Leonardo di Caprio, Richard Branson dan Alain Prost. Mereka tidak semuanya ingin mencapai ketenaran dan kemewahan, tetapi mereka terlihat berjiwa filantropi dan ingin berinovasi untuk teknologi mobil listrik masa depan yang ramah lingkungan.
Pada perjalanannya sejak pertama diselenggarakan, Formula E terlihat sulit untuk merebut penonton fanatik Formula 1. Tetapi memang itu bukan tujuannya. Justru mereka memperhatikan generasi milenial sebagai penonton baru yang kebanyakan penggemar muda. Kerumunan yang mungkin belum tertarik dengan motorsport tetapi aktif di media sosial. CEO Formula E Alejandro Agag pernah mengatakan bahwa dia akan mengukur keberhasilan Formula E melalui sosial media. Dan itu dibuktikan dengan diperkenalkannya Fan Boost yang bekerja untuk memilih pembalap favorit agar mendapat dorongan baterai 5 detik yang bisa dilakukan dengan sosial media.
Fitur baru yang dapat memberikan secara langsung kontribusi penggemar kepada pembalap favorit. Hal ini sebagai keuntungan Indonesia yang pernah dikatakan sebagai negara paling “berisik” di  sosial media. Coba bayangkan jika keberisikan itu dialihkan lebih positif untuk mendukung Rio saat berlaga di arena Formula E. Mobil yang dikendarai Rio akan mendapatkan boost extra yang berguna memperkecil waktu tempuh lap demi lap.
Langkah smart Formula E juga terlihat dari penyelenggaraannya. Kalau di Formula 1 kebanyakan diselenggarakan di sirkuit-sirkuit pinggir/luar kota, sedangkan Formula E balapan di tengah-tengah ibu kota suatu negara. Rio bisa menjadi kendaraan untuk membawa sirkus Formula E diselenggarakan di Ibukota Jakarta. Jadi langkah Rio di Formula E sangat sesuai dengan program meningkatkan pariwisata di Indonesia dan tentu saja Indonesia semakin dikenal jika menjadi salah satu penyelenggara balap Formula E dibawah naungan FIA ini.
Memang masih ada alternatif balap single seater  selain Formula E yang mungkin bisa diikuti pembalap sekaliber Rio Haryanto. Seperti Indycar di Amerika atau Super Formula di Jepang. Jika dibandingkan Formula E, event-event balap itu memang jauh lebih dulu diselenggarakan dan mempunyai penonton fanatik masing-masing. Tetapi Formula E dengan berbagai fitur baru, penyelenggaraan yang lebih mendunia dan milenial rasanya sangat pantas untuk diikuti Rio di masa sekarang ini. Sangat mungkin pemuda asal kota Solo ini menjadi pembalap paling favorit Formula E yang akan datang. Semoga.(EDP)

Ini video Rio Test Formula E di Valencia