Wayang Golek Tampil di Prancis

wayang-golek

Pertunjukkan wayang golek dengan lakon cuplikan kisah Mahabarata dan Ramayana oleh Yayasan Seni Sunda Wayang Golek Putra Giri Harja 3 (PGH3) tampil di Festival Boneka di Charleville Mezieres, Prancis. Festival ini berlangsung pada 16-24 September lalu.

Atase Pendidikan KBRI Paris Surya Rosa Putra kepada Antara London, Selasa menyebutkan selain mengikuti Festival Boneka, PGH3 juga akan tampil di Lyon pada tanggal 27-28 September di Aubervilliers, Perancis.

Menurut Surya Rosa Putra, program FMTM adalah festival boneka dua tahunan terbesar di Eropa yang sudah ada sejak tahun 1961 dan setiap kali dihadiri ratusan ribu pengunjung dari seluruh dunia. Pada 2015, jumlah penngunjung 170 orang.

Direktur penyelenggara Anne-Francois Cabanis menyebutkan terdapat 400 penampil dari 25 negara.

Penampilan Indonesia adalah yang pertama selama festival.

Anne menyampaikan terima kasih kepada pemerintah Indonesia melalui Dubes Hotmangaradja Pandjaitan dan mengatakan panitia penyelenggara festival mengaku sangat kagum dengan personal dan penampilan wayang golek dari Jawa Barat.

PGH3 yang tampil di Charleville dipimpin dalang Dadan Sunandar Sunarya beranggotakan antara lain, Rudi Yantika (asisten dalang), Mama Hayati (penyanyi) dan para pemain gamelan.

Pertunjukan kali ini melibatkan Sarah Anais Andrieu, peneliti Perancis yang menikah dengan salah seorang anggota PGH3, sebagai penerjemah.

Sarah juga yang mengorganisir misi PGH3 di Perancis. Pertunjukan yang berjudul “Game of Throne” merupakan cuplikan cerita Baratayuda yang setiap penampilan berlangsung selama lima jam, seperti layak nya pertunjukan normal, dari jam 19.00, di Place Ducale, lokasi utama Festival.

Pada pertunjukan pertama Dubes Hotmangaradja Pandjaitan hadir bersama Direktur Festival Dubes menyerahkan Macara (gunungan) kepada dalang sebagai tanda dimulainya pertunjukan.

Ratusan penonton hadir di sekitar panggung dan tidak beranjak selama pertunjukan. Beberapa diantara mengaku sangat menikmati pertunjukan, meskipun tidak mengerti secara utuh percakapan dalam cerita.

Bagi mereka, ekspresi dalang, irama musik, dan nyanyian, serta skrip dalam bahasa Perancis cukup untuk membuat mereka kagum. Sebagian penonton, ada yang membawa bantal, seperti layaknya nonton wayang di Indonesia.