“Ant-Man And The Wasp” Ringan Dan Menghibur

Setelah menonton “Avengers: Infinity War” yang rumit, penuh konflik dan adegan menegangkan, “Ant-Man And The Wasp” menjadi suguhan yang lebih ringan namun menghibur.

Tidak ada yang terlalu serius di “Ant-Man And The Wasp”. Bahkan pada adegan-adegan yang harusnya penuh emosi dan mengharukan atau menegangkan pun tetap ada selipan-selipan humornya.

Karakter-karakter antagonis pun tidak sepenuhnya jahat dan membuat penonton emosi, cuma geregetan dan sedikit jengkel seperti baru digigit semut gatal.

Kisah “Ant-Man And The Wasp” dimulai dua tahun setelah Scott Lang (Paul Rudd), pria biasa yang bisa menyusut dan membesar setelah mengenakan kostum Ant-Man, membantu Captain America menghadapi rekan-rekan Avengers.
Akibat keterlibatannya Scott menjadi tahanan rumah. Sembari menanti kebebasan, Scott bersantai sambil mencari cara untuk membunuh waktu, seperti mempelajari trik-trik sulap, dan sesekali bermain dengan putrinya Cassie (Abby Ryder Fortson).

Menjelang kebebasannya, Scott Lang kembali berhadapan dengan Hope van Dyne dan Dr. Hank Pym yang menjadi buronan gara-gara aksinya ikut-ikutan di pertempuran Avengers.

Mereka optimistis bisa menyelamatkan Janet, ibu Hope dan istri Hank Pym, yang terjebak di dunia kuantom subatom ketika bertugas sebagai Wasp puluhan tahun lalu.

Keberhasilan Scott Lang keluar dari dunia yang sama dari tempat yang kini ditinggali Janet membuat Hope dan Pym mau tidak mau membutuhkan bantuan Scott.

Usaha mereka semakin rumit dengan kemunculan sosok misterius yang disebut Hantu (Hannah John-Kamen), yang bisa menembus benda padat seperti makhluk halus serta gangguan dari pemimpin geng Sonny Burch yang ingin mendapatkan laboratorium Pym.

Scott juga harus kucing-kucingan dengan FBI yang akan mengurungnya di penjara sehingga terpisah dari putrinya bila ketahuan keluar dari rumah.

“Ant-Man And The Wasp” adalah film tentang keluarga. Itu tercermin dari hubungan karakter-karakternya, antara Scott dan putrinya Cassie serta Hope dan Pym dengan Janet.

Rasa cinta pada keluarga, anak atau orang yang sudah dianggap darah daging sendiri memotivasi karakter-karakter di film ini untuk melakukan hal-hal yang penuh risiko.

Sisi kemanusiaan inilah yang membuat sekuel “Ant-Man” menjadi menarik dibandingkan film pahlawan super lain menurut produser Kevin Feige.

Chemistry antara Scott dan Hope yang kerap “diganggu” oleh Pym pada saat-saat krusial juga menjadi salah satu sumber komedi, demikian juga dialog merepet Luis (Michael Peña) yang menambah bumbu cerita.

Film yang mulai tayang 4 Juli ini juga istimewa karena untuk pertama kalinya menaruh nama pahlawan super perempuan di judul.  Evangeline Lilly ingin memperlihatkan sosok Wasp sealami mungkin. Menurut sutradara Peyton Reed, Evangeline ingin penonton melihat karakter Hope penuh keringat ketika sedang bertempur.

“Evangeline sangat spesifik,” kata Reed seperti dikutip Reuters. “Dia bilang ‘Saya tidak mau terlihat glamor. Saya mau terlihat berkeringat setelah bertempur’ dan ‘Saya ingin merasakan seperti apa perasaan seorang perempuan dalam kostum ini.”

Seperti film Marvel pada umumnya, “Ant-Man And The Wasp” juga punya adegan tambahan setelah credit title berakhir. Jadi, jangan buru-buru beranjak dari bioskop bila penasaran mengapa Ant-Man tidak muncul di “Avengers: Infinity War”.

copyright © antara 2018