Maria Londa tetap bersyukur meski gagal tembus final Kejuaraan Dunia

Atlet lompat jauh putri Indonesia Maria Natalia Londa pada Minggu menyatakan tetap bersyukur meskipun gagal tembus ke babak final pada Kejuaraan Dunia Atletik 2019 di Doha, Qatar, sehari sebelumnya.

Pasalnya, Maria Londa mengaku memetik banyak pengalaman dari penampilan keduanya di Kejuaraan Dunia Atletik setelah selang 12 tahun. Dan hal itu ia syukuri mengingat atlet kelahiran Denpasar itu kini telah memasuki usai 29 tahun.

”Hasil ranking ke-26 dengan lompatan 6,36 m bukanlah lompatan terbaik saya. Namun (ini adalah) pengalaman dan juga kestabilan lompatan yang masih saya capai di usia ini,” tulisnya dalam laman instagram pribadinya, @marianatalialonda7997, Minggu.

“Saya ingin mengatakan bahwa usia tidaklah menjadi penghalang seorang atlet untuk berprestasi, karena selama kita mempunyai tekad, kerja keras dan kemauan yang kuat itu adalah hal utama dalam meraih prestasi,” tulisnya lagi.

Laman resmi IAAF mencatat lompatan terbaik Maria sejauh 6,36 m membuatnya menempati posisi ke-13 dari 15 peserta di babak kualifikasi Grup B.

Sementara dari total 31 peserta lompat jauh putri yang tergabung dalam Grup A dan Grup B, Maria berada di urutan ke-26.

Dalam Grup B babak kualifikasi itu didominasi oleh pelompat jauh unggulan pertama asal Jerman Malaika Mihambo dengan lompatan sejauh 6,98 m, disusul di posisi kedua ada pelompat jauh asal Ukraina Maryna Bekh-Romanchuk dengan lompatan 6,74 m, dan di urutan ketiga ada pelompat jauh asal Inggris Abigail Irozuru dengan 6,70 meter.

Catatan terbaik Maria tahun ini dalam lompat jauh adalah 6,68 m yang diraihnya pada Kejuaraan Nasional Atletik 2019 di Bogor awal Agustus lalu.

Maria yang baru pulih dari cedera itu masih berjuang untuk tampil maksimal pada SEA Games 2019 di Filipina, berharap dapat memecahkan rekor pribadinya pada SEA Games 2015 di Singapura, di mana dia membukukan lompatan sejauh 6,70 m.

copyright © antara 2019