Pasca Tsunami Selat Sunda, BTS Kembali Beroperasi

Setelah sempat terganggu akibat pesisir Banten dan Lampung diterjang tsunami, hampir seluruh base transceiver station (BTS) atau menara seluler beroperasi penuh saat ini, demikian pengumuman Kementerian Komunikasi dan Informatika.

“BTS eksisting atau sekitar 99,1% BTS di Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lampung Selatan sudah operasional,” kata Dirjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika Kemkominfo, Ahmad M Ramli, melalui keterangan resmi, Rabu.

Terhitung sejak Selasa (25/12) malam, 4687 BTS dari total 4731 BTS di Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lampung Selatan sudah beroperasi kembali.

BTS lainnya terkendala aliran listrik dan memerlukan perangkat baru untuk operator seluler yang peralatannya rusak terkena gelombang tsunami.

Akses telekomunikasi di sejumlah lokasi yang menaranya masih terkendala dapat diatasi oleh BTS mobile dan sistem sistem perbaikan layanan yang dikerahkan operator.

“Dengan demikian, terdapat tambahan 17 BTS yang operasional dibandingkan dengan posisi 25 Desember pukul 08.00 WIB kemarin, atau meningkat 69 BTS dibandingkan dengan posisi pada saat awal terjadinya bencana,” kata Ramli.

Sementara itu, Kominfo juga meminta operator seluler untuk mengoperasikan BTS Combat dan genset mobile sebagai pasokan daya cadangan untuk BTS yang belum mendapat pasokan listrik stabil dari PLN.

“Kominfo akan terus melakukan monitoring terhadap progress BTS yang dalam status down dan melakukan pengukuran terhadap kualitas layanan seluler (Quality of Service/QoS),” kata dia.

Akses telekomunikasi menduduki peran yang penting dan strategis dalam situasi bencana, selain untuk komunikasi korban selamat dengan keluarga dan teman-temannya, jaringan telekomunikasi juga berfungsi untuk mendukung evakuasi dan sistem peringatan dini.

Sejumlah lokasi di Banten dan Lampung diterjang gelombang tsunami pada Sabtu (22/12) malam akibat longsor di dasar laut yang dipicu oleh letusan Gunung Anak Krakatau beberapa jam sebelumnya.

copyright © antara 2018