Protuner Bali Spesialis Motor Kustom

Sejalan pesatnya sektor pariwisata Bali ternyata mempunyai imbas positif ke pelaku usaha modifikasi motor di Pulau Dewata. Salah satunya adalah Protuner Motorcycle. Bengkel modifikasi motor yang berdiri sejak tahun 2009 silam itu sudah tiga tahun terakhir merambah dunia kustom bike alias menjadi builder.

“Sebelumnya saya mendirikan usaha ini untuk modifikasi mesin motor balap, baik cc kecil seperti bebek, matic maupun motor sport 250cc,” cerita Ketut Hargunanto awal mula menekuni usahanya.

Di lokasi terakhirnya yang berada di Jalan Raya Kerobokan No.86B, Kuta Bali inilah Ketut mulai serius menekuni modifikasi motor kustom berbagai aliran. Untuk spesialisnya, builder bertubuh jangkung ini bermain di genre sport bermesin 250cc keatas. “dibawahnya juga diterima sih mas, asal cocok harganya,” senyumnya.

Bermodalkan keahliannya dan didukung dengan pegawai kepercayaan, Protuner mulai diperhitungkan di kancah modifikasi motor Tanah Air. Bahkan beberapa karyanya sampai di ekspor ke mancanegara karena diminati oleh bikers asing yang berkunjung ke workshopnya.

“Di Bali model Brat Style dan Scrambler menjadi favorit bikers lokal maupun luar. Untuk pengerjaan semua motor Protuner digarap handmade memakai alat-alat yang cukup lengkap, bahkan kami punya sebuah mesin dyno test sendiri,” bangga Ketut.

Protuner Motorcycles membisikkan kepada Mister MB kalau biaya modifikasi full kustom dibanderol mulai Rp 40 juta hingga unlimited tergantung spesifikasi yang diinginkan oleh pemiliknya. “Itu termasuk penggantian jok kustom menggunakan bahan MBtech loh,” promosinya.

Oh iya, ternyata selain melakukan usaha modifikasi motor, Bro Ketut juga menerima kursus privat modifikasi. Mister MB saat main ke bengkel Protuner menjumpai 3 orang ekspatriat yang sedang menimba ilmu bersama Bro Ketut.

“Mereka saya bimbing menjadi seorang builder yang bisa mengkastem motornya sendiri, bukan menjadikannya mereka seperti saya,” jelasnya.

Ketut menambahkan, “kalau pun mereka pindah profesi menjadi builder professional di negaranya kenapa tidak.”