Resensi Film : “Fast & Furious: Hobbs & Shaw”

Film aksi tak melulu harus hanya soal baku hantam yang berat hingga membuat alis mengernyit karena berfikir keras, “Fast & Furious: Hobbs & Shaw” mengemas jalan ceritanya dengan penuh aksi memukau namun tetap ringan dan mudah untuk dinikmati.

Cerita yang disuguhkan juga mampu membolak-balikan emosi penontonnya, mulai dari keseruan aksi yang menakjubkan, rasa panik, tercengang, komedi yang mengocok perut, haru, hingga sedih yang meremas hati hingga meneteskan air mata. Semuanya lengkap pada film ini.

“Fast & Furious: Hobbs & Shaw” menampilkan aksi dua karakter utama, yakni Luke Hobbs (Dwayne Johnson, alias The Rock) dan Deckard Shaw (Jason Statham).

Berlatar belakang dua tahun setelah Dominic Toretto dan kawanannya mengalahkan Chiper pada “The Fate of the Furious” alias “Furious 8” (2017). Saat itu, Hobbs sebagai agen federal dan Shaw sebagai mantan agen elit militer Inggris itu berpisah pada dua arah yang berbeda.

Hobbs dan Shaw merupakan musuh ketika di sekuel “Fast & Furious” sebelumnya. Menariknya, pada film “Fast & Furious: Hobbs & Shaw” ini mereka justru akan bekerja sama untuk mengalahkan musuh besar seorang cyber-genetika Brixton Lorr (Idris Elba) yang punya kendali atas ancaman berbahaya dan dapat memusnahkan manusia.

Karena judulnya mengandung embel-embel “Fast & Furious”, bagi yang menggemari “Fast & Furious” sejak sekuel pertama mungkin akan mengharapkan aksi balap mobil atau “street racing” dengan mobil-mobil yang mencolok. Namun, jangan kaget jika aksi balap mobil di film ini tidak terlalu mendominasi.

Bahkan, Anda tidak akan menikmati aksi Vin Diesel alias Dominic “Dom” Toretto di “Fast & Furious: Hobbs & Shaw”. Sebab, film ini merupakan spin-off atau pecahan dari sekuel “Fast & Furious”.

Namun, jangan kecewa dulu, karena film ini tidak kalah menakjubkan dengan sekuel-sekuel “Fast & Furious” sebelumnya. Aksi baku hantam dan “kejar-mengejar” yang disuguhkan mampu membuat penontonya tanpa sadar menahan nafas karena “deg-degan”.

Pada film ini, Hobbs dikisahkan melanjutkan pekerjaannya sebagai agen Layanan Keamanan Diplomatik meski dalam waktu yang bersamaan, ia tetap harus berjuang mempertahankan hubungan dan mengasuh putrinya, sedangkan Shaw kembali ke London.

Di London, Shaw bertemu dengan ibunya yang merupakan tahanan di penjara, Magdalene. Magdalene meminta Shaw untuk kembali berhubungan dengan sang adik, Hattie (Vanessa Kirby) setelah bertahun-tahun kakak-adik itu tidak pernah bertemu karena berselisih paham.

Ketika sedang berusaha mendekati kembali sang adik yang juga merupakan agen rahasia Inggris MI6, Shaw mendapati adik perempuannya itu sedang dikejar oleh pasukan tentara bersenjata. Shaw pun dibantu oleh Hobbs.

Ketika Hattie berhasil diselamatkan, ia mengisahkan kepada kedua pria itu tentang misinya mengikuti jejak Brixton yang sedang menyusun rencana amat jahat terhadap umat manusia.

Ketiganya pun akhirnya bergabung untuk menghentikan Brixton, tentunya mereka bertiga akan dibantu oleh pihak-pihak tak terduga.

Kualitas gambar dan akting

Kualitas gambar yang disuguhkan sudah pasti tidak diragukan lagi, efek-efek yang digunakan saat aksi baku hantam dan “kejar-mengejar” pun tidak kurang maupun berlebihan, porsinya terasa sangat pas sehingga adegan-adegan itu menjadi sangat menakjubkan.

Akting para aktor dan aktris pemeran utama maupun pemeran tambahan juga sangat maksimal. Hampir tidak terlihat kejanggalan ekspresi atau gestur yang ditampilkan.

Vanessa Kirby yang juga merupakan salah satu perempuan pemeran utama di film itu terlihat piawai dan menunjukkan karakter yang kuat.

Kemampuanya dalam bela diri dan melakukan aksi-aksi baku hantam, aksen “British”, serta suara berat yang dimilikinya membuat karisma Hattie semakin terpancar pada film ini.

Hattie digambarkan sebagai karakter yang cerdas dan gesit dalam melakukan segala hal. Ia dapat dengan sangat cepat dan cerdik meloloskan diri dari bahaya yang mengancamnya.

Sementara, meskipun Vanessa Kirby pernah membintangi film “Mission: Impossible – Fallout” yang juga penuh aksi, perannya tidak sekuat yang diinginkannya.

Padahal Vanessa sempat mengatakan dirinya tidak atletis ketika dia masih muda dan bersumpah dia tidak terlalu lihai dalam hal itu. Tetapi berkat pelatihan dan bimbingan dari pelatihnya, Greg Rementer, Vanessa akhirnya benar-benar percaya diri pada fisik dan kemampuan atletisnya.

Untuk mempersiapkan peran sebagai Hattie, Vanessa berlatih selama berbulan-bulan dengan Rementer dan timnya untuk meningkatkan kebugaran dan tingkat ketahanan fisiknya, serta mempelajari koreografi-koreografi aksi yang rumit.

Ketika tiba saatnya untuk benar-benar merekam adegan pertarungannya di kamera, ternyata Vanessa sudah lebih dari siap.

Karakter Hobbs dan Shaw tentu sudah diketahui semua orang yang telah menonton sekuel-sekuel “Fast & Furious” sebelumnya. Namun, pada “Fast & Furious: Hobbs & Shaw” David Leitch sebagai sutradara, ingin memperkenalkan kembali karakter Hobbs dan Shaw sebagai dua orang yang sangat bertolak belakang, mulai dari pandangan pendapat yang selalu berselisih hingga gaya hidup yang sangat bertolak belakang pula.

Perbedaan yang sangat bertolak belakang antar keduanya itu lah yang membuat film ini mengocok perut. Karena baik Hobbs dan Shaw sama-sama tidak ada yang ingin mengalah.

“Fast & Furious: Hobbs & Shaw” mulai tayang di Indonesia hari ini (31/7) dan akan ditayangkan serentak di seluruh dunia pada 2 Agustus mendatang.

copyright © antara 2019