Wayang “ental” tiga dimensi padukan gaya Jepang dan Bali

Teatrikal wayang “ental” tiga dimensi bertajuk “Manu dan Tala” memadukan dengan apik teknik permainan gaya “bunraku” dari Jepang dan “tetikesan” dari wayang tradisional Bali dalam Festival Seni Bali Jani 2019.

“Wayang ‘ental’ (dari daun lontar, red.) tiga dimensi ini merupakan pertunjukan wayang inovatif karena memang disajikan dengan cara berbeda dari wayang pada umumnya,” kata Ketua Sanggar Seni Kuta Kumara Agung, Gusti Made Dharma Putra, di sela-sela pementasan di Depan Gedung Kriya, Taman Budaya, Denpasar, Sabtu (2/11) malam.

Dalam pertunjukan wayang “ental” tiga dimensi dengan durasi 45 menit itu, penonton disuguhkan dengan tokoh-tokoh wayang secara kasat mata, tanpa harus menyaksikan bayangannya.

Wayang “ental” tiga dimensi itu rata-rata memiliki ukuran tinggi satu meter dan lebar 30 sentimeter. Untuk lebar badan 15 sentimeter serta lebar tangan dan kaki 10 sentimeter.

Salah satu bagian penting dalam wayang “ental” adalah wajah wujud karakter manusia yang digambarkan menyerupai tokoh dalam cerita yang dibawakan.

Tak hanya menggunakan teknik permainan wayang yang memadukan gaya “bunraku” dari Jepang, yaitu pemainnya lebih dari satu orang, anyaman yang dipakai wayang “ental” tiga dimensi adalah anyaman Jepang yang menyerupai tikar.

“Perbedaannya, tikar hanya menggunakan dua helai ‘ental’ (daun lontar), sedangkan anyaman Jepang menggunakan tiga helai daun lontar,” ujar Dharma Putra.

Seniman yang menempuh pendidikan S1 dan S2 di Institut Seni Indonesia Denpasar itu, menambahkan secara teknis dalam penyajian wayang “ental” tiga dimensi, para penggerak wayang tidak dibolehkan untuk memberikan aksen berlebihan.

“Hal ini agar pandangan penonton tetap fokus pada wayang ‘ental’ dan ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi para penggerak wayang,” ucapnya.

Meskipun pementasan yang melibatkan 20 seniman itu (penggerak wayang “ental”, penari, dan pembaca narasi) itu berlangsung dalam suasana gerimis, penonton tetap setia menyaksikan hingga akhir acara.

Sebanyak enam penari perempuan juga menggunakan properti balon berwarna merah muda untuk menambah meriah suasana pementasan malam itu.

Kisah “Manu dan Tala” ini mengisahkan tentang dua bersaudara yang hidup tanpa orang tua. Orang tua mereka meninggal dunia ketika berusaha melindungi anak-anaknya dari amukan pemberontak pada waktu itu.

Tala mengidap sakit keras hingga divonis dokter bahwa umurnya tidak akan lama lagi, namun dia menyembunyikan hal tersebut kepada kakaknya, Manu. Hingga pada waktu kepergian Tala datang, Manu tidak mengetahui hal itu.

copyright © antara 2019